Aisyah, 10 tahun, baik hati, periang, rajin, dan pintar.
Mariam, 11 tahun, baik hati, pendiam, kadang rajin kadang malas, dan lumayan pintar.
Aisyah adalah adik kandung dari Mariam. Sedangkan Mariam sendiri adalah kakak kandung dari Aisyah. Mariam dan Aisyah adalah saudara yang setia, serta saling tolong menolong.
Suatu hari, mereka berdua bertemu dengan nenek yang menyeberang jalan sendirian, dan pada saat itu, sedang ada mobil yang melintas. Pengemudinya tidak melihat ada seorang nenek yang sedang menyeberangi jalan. Saat mereka melihat nenek tersebut, mereka terkejut, dan mereka menolong nenek tersebut menyeberangi jalan. Dan saat itulah, kaki Aisyah tertabrak mobil.
TOLOOOOONG!
TOLONG KAMI!
Teriak Mariam saat melihat saudaranya tertabrak mobil. Lalu, datanglah beberapa warga menolong anak yang baik hati itu. Mereka membawa Aisyah ke rumah sakit terdekat. Ternyata nenek yang ditolong oleh kedua saudara itu adalah seorang penyihir, dan dia menggunakan sihir untuk menyembuhkan Aisyah.
Saat Aisyah sudah pulih, nenek tersebut memberikan sihir perlindungan kepada Aisyah dan Mariam. Nenek itu berterima kasih atas jasa yang diberikan oleh kedua gadis kecil itu. Nenek itu berkata, ”Jika kalian berdua tertimpa masalah, maka masalah kalian akan pindah ke pada orang yang berhati jahat dan sombong.’’
Setelah mengatakan itu, nenek itu pun menghilang. Mariam dan Aisyah pun kembali pulang ke rumah.
Keesokan harinya, di sekolah.
Saat itu di kelas 5 sedang menerima murid baru bernama Nina . Dia cantik tetapi sangat angkuh. Mentang-mentang dia anak orang kaya, dia merasa paling pintar dan paling cantik di sekolah. Dia minta agar orang-orang memanggilnya Putri Cantik Nina. Karena nama julukannya terlalu panjang, orang-orang pun memanggilnya PCN.
Saat istirahat, dia berkenalan dengan Aisyah dan Mariam. Dia berkata dengan nada menghina,’’Hai, orang jelek! Ngomong- ngomong aku kasian deh sama kalian, karena kalian miskiiiiin, hahahaha.”
Tetapi Mariam tidak terpengaruh, dia justru menjawab, ’’Ah, untuk apa kita dengerin kata-kata dia, dasar sok kaya.’’ Aisyah pun ikut membantu Mariam, dan berkata, ’’Iya, betul itu Kak. Kita aja orang sederhana kok, jangan-jangan karena dia kaya, dia jadi nggak bisa bedain orang miskin sama sederhana.’’
PCN kaget karena tidak menyangka Mariam dan Aisyah akan membalas kata-katanya karena sebelumnya tidak ada murid yang berani seperti itu. PCN pun tidak terima. Dia semakin membenci Mariam dan Aisyah. Dia pun semakin sombong dan balik mengatai Mariam dan Aisyah.
“Hai, Dua Orang Jelek! Lihat ini, ya. Aku dikasih uang 500 ribu oleh mama, kalian mana punya uang jajan sebanyak ini. Kalian iri, kan?”
Aisyah menjawab, ’’Iri? Enggak, tuh. Biasa aja, iya kan, Kak?’’
’’Iya, tuh!’’ sahut Mariam.
PCN terus saja melontarkan kata-kata hinaan ke pada Mariam dan Aisyah. Dia tidak tahu kalau mereka berdua itu memiliki kekuatan mantra berlindung dari berbagai masalah yang diberikan oleh nenek sakti.
‘’Hadeh, gimana sih itu anak, sombong banget,’’ kata Mariam kesal.
’’Sudahlah Kak, sabar aja, nanti dia sendiri yang akan menerima akibat dari kesombongannya. Karena kita udah dikasih pelindung,’’kata Aisyah menyabarkan hati Mariam.
’’Iya juga ya, mendingan sabar aja,’’ kata Mariam.
Selain sombong, ternyata PCN juga anak yang durhaka terhadap orang tua.
Suatu hari, Marian dan Aisyah tertimpa musibah. Rumah mereka terbakar dan hangus dimakan api. Dan kebetulan, PCN sedang lewat di depan rumah yang terbakar. Dengan jahatnya dia menertawakan Mariam dan Aisyah yang sedang berduka.
’’Hahahaha, rasain tuh, orang miskin. Kan bener yang aku bilang, kalian orang miskiiiin!’’ Teriaknya dengan kencang.
“Kamu jangan sombong PCN, karena kesombongan akan membawa kepada kerugian,’’kata Aisyah.
Lalu karena kesal, PCN pulang kerumahnya. Sesampai di rumah, PCN dinasehati oleh orangtuanya. ’’Nak, kamu jangan suka angkuh di hadapan teman-temanmu, karena nanti jika kamu sedang kesusahan, tidak akan ada yg mau menolong kamu, ’’kata Ibu PCN.
PCN tidak suka mendengar nasehat ibunya itu. Dengan lantang ia pun membentak ibunya. ’’Hei! Aku ini anak kalian, mengapa kalian justru membela anak orang lain? Aku kan Putri Cantik Nina, jadi kalian tidak boleh memarahiku. Kalau kalian tidak suka dengan sikap aku, mengapa kalian tidak pergi aja?”
Mendengar kata-kata PCN itu orangtua PCN sangat kecewa. “Baiklah, kalau memang itu mau kamu, mama dan papa akan pergi, silakan kamu tinggal di rumah ini dengan kesombongan kamu.”
Dengan perasaan sedih orangtua PCN pun pergi dari rumah besar mereka, kembali ke luar negeri, meninggalkan PCN dengan para pelayan demi kenyamanan hidup putri cantik mereka. Namun sayang, pesawat yang ditumpangi oleh orangtua PCN jatuh, mereka pun meninggal dunia. Tinggallah PCN dengan rumah mewahnya dengan para pelayan yang melayaninya.
Namun kenyamanan Putri Cantik Nina tidak bertahan lama, karena perlindungan yang diberi kepada Mariam dan Aisyah mulai berkerja. PCN menjadi miskin karena uang yang dimilikinya selalu dibelikan aksesoris dan mainan-mainan mahal. Pelayannya juga semakin berkurang, hingga habis tak bersisa. Tidak ada lagi orang yang mau jadi pelayan Nina yang miskin tapi sombong. Orang-orang pun tidak mau lagi memanggilnya PCN, dia kembali ke nama aslinya, Nina.
Sedangkan harta yang dimiliki Mariam dan Asiyah semakin bertambah, karena yang menjual aksesoris kepada Nina selama ini tak lain adalah Aisyah dan Mariam.
Keluarga Mariam dan Aisyah pun menjadi kaya raya, sementara Nina terpuruk dalam kemiskinan. Setiap hari dia harus mengemis untuk mendapatkan sebungkus nasi. Tidak tega melihat kondisi Nina, Mariam dan Aisyah pun mengulurkan bantuan. Mereka mengajak Nina untuk tinggal bersama dengan mereka.
Nina merasa menyesal dengan semua kesombongannya selama ini. Dia berkali-kali meminta maaf kepada Mariam dan Aisyah. Sebagai anak yang berakhlak mulia Mariam dan Aisyah pun memaafkan Nina.
“Sekarang kamu harus berjanji, Nina. Jadilah anak yang baik hati, dan tidak sombong. Agar hidup kita selamat dan punya banyak teman.” Kata Mariam.
“Iya. Aku berjanji. Terimakasih ya, kalian sudah mau menjadi keluarga baruku,” kata Nina.
“Iya, sama-sama.” Jawab Mariam dan Aisyah bersamaan.
Akhirnya Mariam dan Aisyah hidup damai dan bahagia bersama Nina selama-lamanya.
TAMAT


