25/12/19

Penyesalan Ame

Edit Posted by with 3 comments


Ame dan Risa adalah teman akrab sejak umur 5 tahun. Di sekolah, mereka selalu menghabiskan waktu istirahat dengan bermain bersama teman-teman yang lain. Selain itu, mereka selalu bersama kemana-mana, di sekolah, di taman, mau pun liburan bersama orangtua mereka masing-masing.

Suatu hari, datanglah murid baru yang sangat cantik. Namanya Ammi. Walau pun cantik, dia tidak pernah menyombongkan diri di hadapan teman-temannya. Semua orang menyukai murid baru tersebut. Sehingga Ame dan Risa ingin sekali mengajaknya dalam pertemanan akrab mereka.

Hingga suatu pagi, “Hai, Ame. Baru sampai di sekolah, ya ?“ tanya Ammi kepada Ame yang sedang menunggu Risa di tangga sekolah. ” Iya, nih, hehehe ,” jawab Ame masih malu-malu.

”Kamu nggak perlu malu, kita satu kelas, jadi nggak apa-apa kalau mau berteman denganku.” Kata Ammi.

“Terimakasih, Ammi.” Ame segera mengajak Ammi masuk ke dalam kelas. Dan saat itulah, Risa datang dan berkata, “Lho, kok tumben Ame nggak nungguin aku di tangga, mungkin karena aku yang datang duluan ?” pikir Risa, kemudian segera masuk ke kelas karena dia pikir dia datang lebih cepat di banding Ame.

“Eh, Ame. Kenapa kamu nggak nungguin aku di tangga sekolah ?” tanya Risa yang secara terkejut melihat Ame yang sedang berbincang dengan Ammi.

“Maaf, aku lupa,” kata Ame pura-pura lupa.

”Oh, ya. Ame, aku tinggal dulu ya, aku mau ke toilet sebentar.” Kata Ammi.

“Oke, bosku,” sahut Ame dengan nada bercanda.

Setelah Ammi pergi, tiba-tiba Ame berkata, ”Huh, buat apa aku nungguin kamu , kamu itu hanyalah orang minder, tidak seperti Ammi, teman baruku,” kata Ame dengan nada kasar.

“Tetapi, Ame ... kita masih temenan, kan ?” tanya Risa kaget.

“Enggak, temanku sekarang hanyalah Ammi, dan mulai sekarang kamu menjadi pelayan untukku dan Ammi selama di sekolah!” jawab Ame.

Mendengar kata-kata kasar Ame, sahabat sejatinya itu, Risa hanya bisa diam. Dia pun sendirian selama jam istirahat tanpa seorang pun teman, karena setiap ingin bermain, pasti teman-temannya mengatakan “sudah penuh, kami sudah cukup orang“.

“Risa, kamu sedang apa, main bersama yuk!“ ajak Ammi.

Dan Risa tidak punya pilihan lain selain Ammi dan Ame. “Ame, aku ingin mengajak Risa bergabung untuk bermain bersama kita. Boleh?” tanya Ammi sambil menggenggam tangan Risa.

”Ya, boleh-boleh aja,” jawab Ame dengan nada canggung karena tidak senang. Mereka pun kemudian bermain bersama.

Tak lama kemudian, Ammi pergi ke kantin untuk membeli makanan camilan.” Risa, ambilkan minumku dan minum Ammi di kelas, cepat ya, sebelum Ammi datang, kalau nggak, kamu nggak dapat camilan!“ perintah Ame kepada Risa.

“Iya, deh,” jawab Risa dengan ikhlas.

Setelah Risa pergi, Ammi kembali. “Risa dimana?“ tanya Ammi.

“Hmm, dia lagi....ee...ke kelas,” jawab Ame.

“Ngapain dia ke kelas?” tanya Ammi heran.

“Eh, itu dia!” jawab Ame sambil menunjuk ke arah Risa yang berjalan dengan 2 botol minum di tangannya. Dan Risa segera memberikan minuman itu kepada Ame dan Ammi.

“Mengapa kamu mengambil minuman kita? Kan kita sudah pesan minuman.” Kata Ammi dengan penuh tanya.

Risa tidak menjawab, melainkan dia langsung kembali ke kelas. Dia tidak banyak bicara hingga bel pulang berbunyi.

Dalam perjalanan pulang dari sekolah Ammi berpikir sendiri. “Sebenarnya aku agak merasa curiga dengan Ame. Sebelumnya dia selalu tampak riang bersama Risa, tetapi sekarang tampak tidak senang. Baiklah, aku akan melakukan sesuatu besok.” Kata Ammi dalam hati.

Keesokan harinya Ammi menemui Ame dan Risa, kemudian berkata, “Ame, Risa, aku harus ke kantin, mungkin agak lama, kalian nggak usah ikut dulu, kalian ngobrol dulu,ya!” perintah Ammi. Ame dan Risa mengangguk setuju.

Setelah Ammi pergi, Ame langsung berkata kepada Risa. “Hei, ngapain lihat-lihat aku? Mending pergi aja sana!” Perintah Ame dengan kasar. Risa diam saja, dia tidak menjawab kata-kata Ame, kemudian melangkahkan kaki untuk pergi. Tetapi Ammi tiba-tiba muncul.

”Wah ... wah ... wah, tunggu dulu. Jadi ini yang Ame lakukan selama aku pergi?” tanya Ammi dengan nada tidak suka.

“Eeh, enggak kok, aku cuma mengelus kepala Risa. Kamu kok cepet banget sih nyampai nya, tadi katanya ke kantinnya agak lamaaa!” jawab Ame terbata.

“Emangnya kamu kira aku nggak dengar? Dari tadi aku berdiri dan mengintip kalian dari balik jendela bersama Bu Guru.” Kata Ammi dengan nada kesal.

Bu guru berkata, “Jadi begini sifatmu yang sebenarnya, Ame? Ibu kira kamu anak yang baik, tapi ternyata....sikapmu buruk. Yang ibu tahu biasanya kamu bermain dan bersenang-senang dengan Risa, tetapi sekarang kamu malah membuli temanmu sendiri. Jadi karena sikap burukmu ini, Ibu Guru akan beri kamu hukuman. Nilai ujianmu untuk semua mata pelajaran akan ibu kurangi 2 angka.” Kata Bu Guru dengan tegas.

Mendengar hukuman dari Bu Guru, Ame merasa menyesal. Ame pun meminta maaf kepada Risa. Ame berjanji tidak akan mengulangi sikap buruknya lagi.



Risa memang anak yang berhati mulia. Walau pun Ame sudah menyakitinya, Risa tetap memaafkan kesalahan Ame. Karena bagi Risa, Ame tetap sahabat yang dia sayangi. Dan Insya Allah, Allah Yang Maha Pengampun akan mengampuni dosa dan kesalahan yang Ame perbuat.

23/12/19

Sahabat Sejati Putri

Edit Posted by with No comments


Namaku Putri, umurku 10 tahun, aku berasal dari Kepulauan Riau. Hobiku mewarnai gambar. Di sekolah, teman-teman sering memanggilku dengan julukan “Seniman”. Mungkin karena karya seniku yaitu lukisan berwarna milikku adalah yang terbaik di kelasku.

Suatu pagi, aku berangkat ke sekolah. Tiba-tiba, datanglah sebuah truk besar. Aku tidak takut walau pun harus ditabrak oleh sebuah kendaraan, karena walau pun aku sedang berjalan, pasti supirnya akan berhenti karena melihatku. Maka, aku hanya berjalan dengan santai, dan perlahan-lahan. Namun sayang, supir tersebut adalah supir yang ceroboh, dia tidak melihatku karena dia sedang mendengar lagu yang riang, dia tidak melihat jalan , melainkan bernyanyi riang di truknya.

BRUUUKK!

Dan terjadilah sebuah kejadian yang tidak menyenangkan. Badanku hampir tertabrak. Untung, aku dapat menyelamatkan diriku. Tetapi, tiba-tiba, kepalaku terbentur keras di jalan raya karena terkejut dan pingsan setelah truk besar itu pergi. Kalian tahu,kan? Kalau pingsan itu pasti saat kita sedang terbentur kepala kita jadi ke bawah, hampir seperti orang meninggal, tapi aku tidak meninggal. Hehehe....

Dan terjadi luka berat di kepalaku. Kakakku datang dan segera membawaku ke rumah sakit bersama orang tuaku. Kata dokter, “Terjadi benturan yang sangat keras di kepala anak Anda.” Jadi, aku diharuskan dirawat di kamar pasien sampai aku selesai diobati oleh Bu dokter. Dan pengobatanku berakhir setelah 5 hari.

Bekas luka di kepalaku sudah tidak begitu parah lagi, dan aku sudah sadar tepat ketika beberapa anak seusiaku berada di kamar pasien. Sebenarnya aku sangat bahagia. Namun, aku sama sekali tidak mengenali mereka semua.

”Hai, Putri. Bagaimana keadaanmu?” tanya salah seorang dari mereka. Dan aku balik bertanya, “Apakah kamu berbicara kepadaku?” Mereka heran mendengar pertanyaanku.

”Te...tentu sa...ja, Putri.” Jawabnya dengan terbata-bata.

“Memangnya aku siapa? Bagaimana kamu tahu namaku?” Tanyaku kembali.

”Namamu memang Putri, tahu!” jawab anak berdiri di dekat tempat tidurku. Dan dia berbisik ke seseorang di sampingnya.

”Sinta, sepertinya dia terkena penyakit Amnesia,” katanya.

“Eh, emangnya apa sih arti Amnesia?” Sinta yang dibisiki, balik bertanya.

”Amnesia berarti hilang ingatan!” jawabnya lagi.

”Hah! Putri, Amelia bilang kamu hilang ingatan. Itu beneran, ya?” Tanya Sinta kepadaku.

“Hilang ingatan? Mana mungkin, aku tidak hilang ingatan, tahu!” kataku kepada Sinta.”Aku hanya tidak mengenal kalian,” tambahku lagi.

“Haaaa masa sih, kita berenam sudah berkenalan dari kelas 1 sampai kelas 4 lho!” kata Sinta dengan nada tinggi.

”Hmmm ... oh ya! Aku punya ide, nih. Sinta, Eni, Rita, Rini, ayo berkumpul. Aku tahu cara agar Putri bisa mengembalikan ingatannya.” kata Amelia.

”Putri, kamu tunggu dulu, ya!” kata Sinta kepadaku.

”Emang bagaimana caranya?” tanya Rini kepada Amelia.

”Kita harus memperkenalkan diri kita, nama orangtuanya dan seluruh benda yang dilihatnya, seperti mengajarkan bayi yang belum tahu apa-apa.” Kata Amelia lagi.

”Wah ... hebat, Amelia. Kamu Jenius!” Puji Rita.

Dan mereka memperkenalkan nama mereka di depan Putri.

”Jadi, kalian teman-temanku, ya?” tanyaku.

”Iya , begitulah, Putri. Apakah kamu sudah mengenali kami?” tanya Amelia.

”Iya, aku ingat kalian semua sekarang.” Jawabku.

Dan mereka memperkenalkan segala sesuatu yang kulihat.

”Terima kasih, teman-temanku. Aku tidak akan pernah melupakan jasa-jasa kalian, jika bukan karena kalian aku pasti akan menjadi orang yang sengsara karena tidak tahu kebaikan dan kejahatan.” Kataku sambil menangis bahagia.

Dan segala memori atau ingatan yang hilang selama beberapa hari, kembali lagi kepadaku. Terima kasih teman sejati!



TAMAT