Penyesalan Ame
Edit Posted by Dwinovaira with 3 commentsAme dan Risa adalah teman akrab sejak umur 5 tahun. Di sekolah, mereka selalu menghabiskan waktu istirahat dengan bermain bersama teman-teman yang lain. Selain itu, mereka selalu bersama kemana-mana, di sekolah, di taman, mau pun liburan bersama orangtua mereka masing-masing.
Suatu hari, datanglah murid baru yang sangat cantik. Namanya Ammi. Walau pun cantik, dia tidak pernah menyombongkan diri di hadapan teman-temannya. Semua orang menyukai murid baru tersebut. Sehingga Ame dan Risa ingin sekali mengajaknya dalam pertemanan akrab mereka.
Hingga suatu pagi, “Hai, Ame. Baru sampai di sekolah, ya ?“ tanya Ammi kepada Ame yang sedang menunggu Risa di tangga sekolah. ” Iya, nih, hehehe ,” jawab Ame masih malu-malu.
”Kamu nggak perlu malu, kita satu kelas, jadi nggak apa-apa kalau mau berteman denganku.” Kata Ammi.
“Terimakasih, Ammi.” Ame segera mengajak Ammi masuk ke dalam kelas. Dan saat itulah, Risa datang dan berkata, “Lho, kok tumben Ame nggak nungguin aku di tangga, mungkin karena aku yang datang duluan ?” pikir Risa, kemudian segera masuk ke kelas karena dia pikir dia datang lebih cepat di banding Ame.
“Eh, Ame. Kenapa kamu nggak nungguin aku di tangga sekolah ?” tanya Risa yang secara terkejut melihat Ame yang sedang berbincang dengan Ammi.
“Maaf, aku lupa,” kata Ame pura-pura lupa.
”Oh, ya. Ame, aku tinggal dulu ya, aku mau ke toilet sebentar.” Kata Ammi.
“Oke, bosku,” sahut Ame dengan nada bercanda.
Setelah Ammi pergi, tiba-tiba Ame berkata, ”Huh, buat apa aku nungguin kamu , kamu itu hanyalah orang minder, tidak seperti Ammi, teman baruku,” kata Ame dengan nada kasar.
“Tetapi, Ame ... kita masih temenan, kan ?” tanya Risa kaget.
“Enggak, temanku sekarang hanyalah Ammi, dan mulai sekarang kamu menjadi pelayan untukku dan Ammi selama di sekolah!” jawab Ame.
Mendengar kata-kata kasar Ame, sahabat sejatinya itu, Risa hanya bisa diam. Dia pun sendirian selama jam istirahat tanpa seorang pun teman, karena setiap ingin bermain, pasti teman-temannya mengatakan “sudah penuh, kami sudah cukup orang“.
“Risa, kamu sedang apa, main bersama yuk!“ ajak Ammi.
Dan Risa tidak punya pilihan lain selain Ammi dan Ame. “Ame, aku ingin mengajak Risa bergabung untuk bermain bersama kita. Boleh?” tanya Ammi sambil menggenggam tangan Risa.
”Ya, boleh-boleh aja,” jawab Ame dengan nada canggung karena tidak senang. Mereka pun kemudian bermain bersama.
Tak lama kemudian, Ammi pergi ke kantin untuk membeli makanan camilan.” Risa, ambilkan minumku dan minum Ammi di kelas, cepat ya, sebelum Ammi datang, kalau nggak, kamu nggak dapat camilan!“ perintah Ame kepada Risa.
“Iya, deh,” jawab Risa dengan ikhlas.
Setelah Risa pergi, Ammi kembali. “Risa dimana?“ tanya Ammi.
“Hmm, dia lagi....ee...ke kelas,” jawab Ame.
“Ngapain dia ke kelas?” tanya Ammi heran.
“Eh, itu dia!” jawab Ame sambil menunjuk ke arah Risa yang berjalan dengan 2 botol minum di tangannya. Dan Risa segera memberikan minuman itu kepada Ame dan Ammi.
“Mengapa kamu mengambil minuman kita? Kan kita sudah pesan minuman.” Kata Ammi dengan penuh tanya.
Risa tidak menjawab, melainkan dia langsung kembali ke kelas. Dia tidak banyak bicara hingga bel pulang berbunyi.
Dalam perjalanan pulang dari sekolah Ammi berpikir sendiri. “Sebenarnya aku agak merasa curiga dengan Ame. Sebelumnya dia selalu tampak riang bersama Risa, tetapi sekarang tampak tidak senang. Baiklah, aku akan melakukan sesuatu besok.” Kata Ammi dalam hati.
Keesokan harinya Ammi menemui Ame dan Risa, kemudian berkata, “Ame, Risa, aku harus ke kantin, mungkin agak lama, kalian nggak usah ikut dulu, kalian ngobrol dulu,ya!” perintah Ammi. Ame dan Risa mengangguk setuju.
Setelah Ammi pergi, Ame langsung berkata kepada Risa. “Hei, ngapain lihat-lihat aku? Mending pergi aja sana!” Perintah Ame dengan kasar. Risa diam saja, dia tidak menjawab kata-kata Ame, kemudian melangkahkan kaki untuk pergi. Tetapi Ammi tiba-tiba muncul.
”Wah ... wah ... wah, tunggu dulu. Jadi ini yang Ame lakukan selama aku pergi?” tanya Ammi dengan nada tidak suka.
“Eeh, enggak kok, aku cuma mengelus kepala Risa. Kamu kok cepet banget sih nyampai nya, tadi katanya ke kantinnya agak lamaaa!” jawab Ame terbata.
“Emangnya kamu kira aku nggak dengar? Dari tadi aku berdiri dan mengintip kalian dari balik jendela bersama Bu Guru.” Kata Ammi dengan nada kesal.
Bu guru berkata, “Jadi begini sifatmu yang sebenarnya, Ame? Ibu kira kamu anak yang baik, tapi ternyata....sikapmu buruk. Yang ibu tahu biasanya kamu bermain dan bersenang-senang dengan Risa, tetapi sekarang kamu malah membuli temanmu sendiri. Jadi karena sikap burukmu ini, Ibu Guru akan beri kamu hukuman. Nilai ujianmu untuk semua mata pelajaran akan ibu kurangi 2 angka.” Kata Bu Guru dengan tegas.
Mendengar hukuman dari Bu Guru, Ame merasa menyesal. Ame pun meminta maaf kepada Risa. Ame berjanji tidak akan mengulangi sikap buruknya lagi.
Risa memang anak yang berhati mulia. Walau pun Ame sudah menyakitinya, Risa tetap memaafkan kesalahan Ame. Karena bagi Risa, Ame tetap sahabat yang dia sayangi. Dan Insya Allah, Allah Yang Maha Pengampun akan mengampuni dosa dan kesalahan yang Ame perbuat.


Keren.. bagus
BalasHapusIni mah udah medium level, gak level pemula...
BalasHapusMantap
Keren kk aira...
BalasHapusSmoga makin pintar nulis spt bunda yaaa...
Taci sukka... Taci sukka...������